CARA MEMBEDAKAN SERTIFIKAT RUMAH PALSU ATAU ASLI

Sertifikat tanah

Mungkin beberapa dari Anda sudah mengertahui banyak sekali orang yang bisa memalsukan sertifikat atau dokumen tanah demi keuntunganya sendiri. Anda patut waspada ketika hendak membeli rumah, khususnya rumah yang sudah pernah dihuni, karena jangan sampai nanti Anda akan terkena apes karena mendapatkan yang palsu.

Nah, agar hal tersebut tidak terjadi menimpa Anda, sebaiknya Anda mengenali ciri-ciri sertifikat tanah atau rumah yang asli dan palsu.

Bentuk Fisik surat-surat Tanah Asli / Palsu

Di beberapa kasus, banyak ditemukan beberapa ciri-ciri khusus pada surat-surat tanah /rumah palsu, yakni cover atau sampul buku sertifikat tanah berwarna abu-abu, padahal umum nya sertifikat tanah / rumah asli yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah berwarna hijau. Selain itu, salah satu ciri sertifikat palsu adalah cap serta tanda tangan yang tertera dalam sertifikat berbeda dengan yang asli.

Datang & Cek ke BPN Badan Pertanahan Nasional

Guna memastikan keaslian sertifikat tanah, ada baiknya jika Anda langsung datang ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN), di sana pihak BPN akan mengecek surat-surat tanah dengan sangat jelas sehingga bisa membedakan apakah sertifikat asli atau palsu, mulai dari bentuk fisik buku sertifikat tanah hingga nomor registrasi yang tertera dalam buku sertifikat.

Prosedur pengecekan surat-surat tanah asli di kantor BPN:

  • Datang ke kantor BPN di wilayah tempat tinggal Anda
  • Datang ke loket pengecekan surat-surat tanah
  • Membawa surat-surat tanah asli, KTP, bukti lunas PBB tahun terakhir
  • Waktu pengecekan sertifikat tanah satu hari
  • Biaya pengecekan Rp 50.000

Modus Pemalsuan surat-surat Tanah

Sebenarnya ada beberapa modus yang biasa dilakukan oleh sindikat pemalsuan surat-surat tanah, namun yang kerap dilakukan adalah dengan cara berpura-pura menjadi pembeli tanah atau rumah. Awalnya pelaku akan meminta izin kepada pemilik rumah untuk meminjam surat-surat untuk mengecek keaslian.

Setelah diberikan, maka pelaku akan memfotokopi untuk dipalsukan, pelaku akan mempelajari dokumen untuk mempelajari bentuk tanda tangan beserta cap BPN yang tertera pada surat-surat tanah. Bahkan ada beberapa kasus penggandaan dokumen melibatkan oknum BPN agar surat-surat palsu terlihat seperti asli.

Untuk menghindari hal tersebut, ada baiknya bagi Anda untuk tidak dengan mudah memberikan surat-surat tanah kepada calon pembeli. Namun jika hal tersebut harus dilakukan, sebaiknya Anda terlebih dahulu meminta uang DP rumah terlebih dahulu kepada calon pembeli, guna memastikan bahwa orang tersebut benar-benar berminat membeli rumah Anda.

Cara penipuan kedua adalah penipu mengaku sebagai penjual tanah, dengan cara memalsukan dokumen, penipu menjual tanahnya yang sebenarnya bukan tanahnya, namun penipu sudah bisa memanipulasi dokumen tanah. Selanjutnya penipu akan mengajak ketemuan calon pembeli tanah/rumah di hari Jumat sore hari dan meminta DP dibayarkan maksimal hari minggu. Padahal kantor BPN tutup hari sabtu sehingga Anda belum sempat untuk mengeceknya ke BPN, dengan cara memaksa uang DP harus sudah ditransfer di hari Minggu, terpaksa Anda transfer hari minggunya. Pada senin baru bisa cek ke BPN, akhirnya ketika di cek sertifikat yang Anda miliki adalah surat-surat tanah palsu, ketika penjual di hubungi ternyata nomernya sudah tidak aktif. Inilah 2 modus penipuan yang kerap terjadi di Indonesia.

Semoga bermanfaat!

 

Baca yang lain : Tips Dekorasi Ruang Makan yang Colorful

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password