Mitos di Balik Terbentuknya Rumah Adat Minangkabau Rumah Gadang

rumah gadang

Rumah Gadang, Sumatera Barat Rumah Gadang (Godang) adalah rumah yang dibangun oleh orang Minangkabau yang sampai kini masih banyak dilihat di provinsi Sumatera Barat. Karena kebudayaan melayu yang menyebar di sekitar semenanjung Malaya waktu dulu, Rumah Gadang sampai saat ini dapat kita jumpai di beberapa wilayah di Malaysia. Jadi, jika suatu saat Anda menemukan rumah ini di negeri tetangga, jangan anggap jika mereka mencuri kebudayaan kita.

Arsitektur rumah gadang merupakan kreasi seni bangunan yang tinggi. Terkandung unsur-unsur bentuk, ruang, susunan, dan bahan. Terciptanya arsitektur indah yang memiliki nilai seperti keadaan manusia dalam mencukupi keperluan hidupnya. Suasana alam persekitaran ikut mencorak kreasi seni bangunan tersebut. Bentuk bangunan dengan latar belakang jajaran tanduk, serta kehidupan spiritual dan adat istiadat masyarakatnya. Demikian arsitektur rumah gadang tercipta.

Bilik atau ruang dalam rumah ini berfungsi untuk menyelenggarakan kegiatan kelompok individu atau kerabat dan orang-orang sesuku. Balairung itu digunakan terus menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Arsitek dan bentuk rumah gadang sangat dipengaruhi oleh alam dan adat istiadat yang kental. Lingkungan alam berperan penting dalam rupa terhadap corak bentuk dan susunan rumah gadang yang terbentuk.

 

Pengaruh kental adat istiadat mencetuskan banyak versi cerita tentang Asal-usul suku Minangkabau. Cerita itu banyak berasal dari tambo Minangkabau. Ada juga yang bersumber dari berbagai tulisan sejarah yang ditulis pada masa itu. Setiap cerita mempunyai fakta tersendiri. Sulit untuk mengetahui yang mana sumber yang lebih valid.

Ada versi yang menceritakan, bentuk gonjong rumah ini menyerupai tanduk seekor kerbau. Erat sekali hubunganya dengan tambo yang menyatakan, orang Minangkabau Menang (Minang) dalam adu kerbau dengan raja dari Jawa pada jaman itu. Untuk melestarikan kemenangan tersebut, masyarakat Minangkabau membuat rumah dengan gonjong di bagian atap rumahnya sehingga terlihat seperti tanduk kerbau.

Cerita versi lain menyebutkan, corak rumah ini yang legendaris itu mirip bentuk kapal. Kapal itu mereka namakan “lancang”. Pada zaman Dahulu kala Kapal lancang itu datang dari arah timur melewati sungai Kampar. Ketika sampai di muara sungai, kapal ditarik ke daratan. Supaya kapal tidak cepat lapuk, pemilik memasangkan atap pada kapal. Layar yang tergantung pada tiang-tiangnya dan diikat denga tali, berfungsi sebagai atap. Oleh karena layar terlalu berat, tiang-tiang itu melengkung menyerupai gonjong seperti atap rumah gadang sekarang. Penumpang lancang (kapal) membentuk rumah yang mirip dengan kapal itu. Dari sinilah asal usul rumah gadang Minangkabau.

Cerita berikutnya lain pula versinya. Bentuk rumah gadang itu menyerupai susunan sirih dan cerano. Tulang sirih itu melentik seperti bubungan atap. Pendapat itu diperkuat dengan fungsi sirih di Minangkabau, yakni sebagai lambang persaudaraan dan kekeluargaan menyambut tetamu.

Jadi mana yang benar, tidak perlu diperdebatkan, yang penting kita terus melestarikan peninggalanan leleuhur agar tetap dijaga keaslianya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password